BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Definisi Infeksi Nosokomial
Infeksi
merupakan proses dimana seseorang rentan (susceptible) terkena
invasi agen patogen atau infeksius yang tumbuh, berkembang biak dan menyebabkan
seseorang menjadi tidak sehat. Yang dimaksud agen bisa berupa bakteri, virus,
ricketsia, jamur, dan parasit, penyebarannya bisa secara langsung maupun tidak
langsung.
Begitupula
Infeksi Nosokomial adalah berasal dari bahasa yunani , dari kata nosos yang artinya penyakit dan komeo yang artinya merawat. Nosokomion
berarti tempat untuk merawat (rumah sakit). Jadi, infeksi nososkomial dapat
diartikan sebagai infeksi yang terjadi di rumah sakit.
Infeksi Nosokomial terjadi karena ada
hubungan silang antara pasien dengan perawat atau dokter, keluarga pasien dengan
perawat/dokter, dan pasien dengan keluarganya pada saat menjalani asuhan
keperawatan di rumah sakit, baik dengan penyakit dasar tunggal maupun penderita
dengan penyakit dasar lebih dari satu, secara umum keadaan umumnya kurang baik,
sehingga daya tahan tubuh menurun. Secara umum, pasien
yang masuk rumah sakit dan menunjukkan tanda infeksi yang kurang dari 72 jam
menunjukkan bahwa masa inkubasi penyakit telah terjadi sebelum pasien masuk
rumah sakit, dan infeksi yang baru menunjukkan gejala setelah 72 jam pasien
berada dirumah sakit baru disebut infeksi nosokomial (Harrison, 2001).
2.2 Faktor yang
Menyebabkan Munculnya Infeksi Nosokomial
2.2.1
Infeksi Nosokomial muncul karena dari diri sendiri, dari petugas rumah sakit,
dan keluarga pasien yang berkunjung kerumah sakit.
2.2.2
Infeksi Nosokomial muncul melalui peralatan medis yang dipakai rumah sakit dan
peralatan makan baik dari rumah sakit maupun dari luar rumah sakit.
2.2.3
Standar dan
praktek yang tidak memadai untuk pengoperasian bank darah dan pelayanan
transfusi
2.2.4 Penggunaan cairan infus yang terkontaminasi,
khususnya di rumah sakit yang membuat cairan sendiri
2.2.5 Meningkatnya resistensi terhadap antibiotik
karena penggunaan antibiotik spektrum luas yang berlebih atau salah
2.2.6 Berat penyakit yang diderita
2.2.7 tempat
(ruangan/bangsal/kamar) dimana penderita dirawat
2.2.8 tempat/kamar dimana penderita menjalani tindakan
medis akut seperti kamar operasi dan kamar bersalin
2.2.9 makanan
dan minuman yang disajikan
2.2.10 Lingkungan rumah sakit secara umum meliputi
air, udara dan bahan yang harus dibuang (disposial)
2.2.11 disebabkan karena infeksi,virus, bakteri dan
jamur yang bermutasi di lingkungan rumah sakit.
2.3 Cara Penularan Infeksi Nosokomial
2.3.1 Penularan
secara kontak
Penularan
ini dapat terjadi secara kontak langsung, kontak tidak langsung dan droplet.
Kontak langsung terjadi bila sumber infeksi berhubungan langsung dengan pasien,
misalnya person to person pada penularan infeksi virus
hepatitis A secara fecal oral. Kontak tidak langsung terjadi
apabila penularan membutuhkan objek perantara (biasanya benda mati). Hal ini
terjadi karena benda mati tersebut telah terkontaminasi oleh infeksi, misalnya
kontaminasi peralatan medis oleh mikroorganisme.
2.3.2 Penularan melalui Common Vehicle
Penularan
ini melalui benda mati yang telah terkontaminasi oleh kuman dan dapat
menyebabkan penyakit pada lebih dari satu pasien. Adapun jenis-jenis common
vehicle adalah darah/produk darah, cairan intra vena, obat-obatan dan
sebagainya.
2.3.3 Penularan melalui udara dan
inhalasi
Penularan
ini terjadi bila mikroorganisme mempunyai ukuran yang sangat kecil sehingga
dapat mengenai pasien dalam jarak yang cukup jauh dan melalui saluran
pernafasan. Misalnya mikroorganisme yang terdapat dalam sel-sel kulit yang
terlepas (staphylococcus) dan tuberculosis.
2.3.4 Penularan
dengan perantara vektor
Penularan
ini dapat terjadi secara eksternal maupun internal. Disebut penularan secara
eksternal bila hanya terjadi pemindahan secara mekanis dari mikroorganisme yang
menempel pada tubuh vector misalnya shigella dan salmonella oleh lalat.
Penularan
secara internal bila mikroorganisme masuk ke dalam tubuh vektor dan dapat
terjadi perubahan secara biologis, misalnya parasit malaria dalam nyamuk atau
tidak mengalami perubahan biologis, misalnya yersenia
pestis pada ginjal (flea).
2.4 Sumber Infeksi Nosokomial
2.4.1. Staphylococcus aureus
Umumnya ditularkan oleh para
petugas yang menularkan biasanya “karier” dan ditularkan melalui tangan. Di
tempat perawatan dimana penyakit yang disebabkan kuman ini berupa
endemi/epidemi maka koloni Stafilokokkus
aureusini dapat ditemukan di kulit, lubang hidung dan nasofaring. Semakin
banyak koloni ini ditemukan, semakin tinggi pula angka kejadian infeksi oleh
kuman tersebut. Infeksi yang ditimbulkannya dapat berupa pustula dikulit,
konjungtivitis, paranokia, omfalitis, abses subkutan (mastitis),
sepsis,pneumo-nia, mepingitis, osteomielitis, enteritis dan lain-lain.
2.4.2. Streptococcus
Koloni kuman ini dapat ditemukan
di kulit, liang telinga dan nasofaring oleh karena kuman ini dibawa oleh bayi
pada waktu lahir atau didapat di tempat perawatan yang ditularkan oleh petugas
bangsal. Pada umumnya infeksistreptococus ini masuk ke tubuh melalui kulit yang
lece, jalan nafas atau pencernaan dan kemudian menimbulkan erisipelas dikulit,
selulitis, pneumonia, sepsis, meningitis dan lain-lain.
2.4.3. Pneumocoocus
Penularan biasanya berasal
dari “karier” yaitu petugas. Kuman ini dapat menimbulkan pneumonia, infeksi
kulit, infeksi tali pusat, sepsis, meningitis dan lain sebagainya.
2.4.4. Listeria
monocytogenes
Infeksi dapat terjadi di dalam
kandungan (melalui plasenta. ke janin ataumelalui jalan lahir). Menurut Barr
(1974), infeksi listiriosis lebih sering terjadi pasca waktu bayi melalui jalan
lahir, oleh karena bayi terkontaminasi dengan flora di jalan lahir yang
mengandung kuman listeria. Wabah yang terjadi di bangsal adalah akibat
terjadinya infeksi silang diantara sesama bayi baru lahir. Selain itu dapat
terjadi infeksi tranplasental yang menyebabkan timbulnya gejala infeksi berat
seperti peumonia, sepsis, abses milier dan abses hati. Koloni kuman ini dapat
dijumpai di hidung, tenggorokan, mekonium, darah dan air seni.
2.4.5. Infeksi kuman
gram negatif
Kuman gram negatif seperti Klebsiella pneumonia,
Flavobacterium meningosepticum, Pseudomonas aeruginosa, Proteus mirabilis,
E.coli, Salmonella, Shigella dan
lain-lain sering ditemukan di kulit, hidung, nasofaring dan flora.Padabayi
terkontaminasi dengan mikro organisme tersebut yang terdapat di jalan
lahir/daerah perineum ibu, atau bayi menelan cairan yang mengandung mikro
organisme tersebut pacta waktu lahir. Penyakit yang ditimbulkannya ialahenteritis,
sepsis, meningitis, pneumonia,
abseshati, necrotizing enterocolitis dan
infeksi traktus urinarius.
2.4.6. Neisseria
gonorrhoeae
Biasanya kuman ini menimbulkan
infeksi pada mata yang disebut Gonococcal
ophthalmia neonatorum. Disamping itu dapat menyebabkan gonococcal arthritisdan disseminated gonorrhoe. Kuman
lain yang juga dapat menyebabkan infeksi mata adalah Klamidia trakhomatis,
Stafilokokkus aureus dan Pseudomonas aeruginosa.
2.4.7. Infeksi kuman anaerob
Kuman yang selalu menyebabkan
infeksi dari golongan anaerob ini adalah bakteriodes dan streptokokkus anaerob,
keduanya dapat dijumpai di vagina dan uterus wanita hamil dan post partum. Oleh
sebab itu bayi baru lahir mungkin saja mengandung kuman ini waktu lahir atau
beberapa saat setelah lahir sehingga mungkin saja terjadi bakteremia atau
sepsis pada hari-hari pertama kehidupan. Lebih-lebih hila diketahui bayi
tersebut lahir dari ibu dengan ketuban pecah dini, amnionitis, bayi baru lahir
yang berbau busuk atau bayi yang menderita abses di kepala sebagai akibat
pengambilan darah intra uterin untuk menganalisa gas darah, setal hematom yang
terinfeksi, perforasi usus dan setiap penyakit infeksi yang tidak sembuh-sembuh
dengan pengobatan. Kuman anaerob lainnya yang sangat berbahaya adalah
Clostridium tetani. Kuman ini berbentuk spora bila diluar tubuh manusia dan
didalam tubuh akan mengeluarkan tetanospasmin suatu toksin neurotropik yang
menyebabkan kejang otot yang merupakan manifestasi klinik untuk diagnosis
tetanus neonatorum. Tempat masuknya kuman ini biasanya dari tali pusat oleh
karena alat pemotong tali pusat yang tidak steril atau cara merawat tali pusat
yang tidak mengindahkan tindakan aseptic dan antiseptik. Misalnya tali pusat
dibungkus dengan bubuk atau daun-daun tertentu atau dibiarkan saja terbuka
sehingga kontaminasi dengan Clostridum mudah terjadi.
2.4.8. Infeksi jamur
Infeksi jamur yang paling
sering ditemukan pada bayi baru lahir adalah yang disebabkan oleh Candida
albicans. Infeksi ini dapat terjadi :
·
Intra uterin sebagai akibat
naiknya mikro organisme ini dari vagina ke uterus, dan dapat menimbulkan
pneumonia kongenital dan septikemia.
·
Koloni Candida albicans yang
dibawa bayi ketika melalui jalan lahir atau didapat di tempat perawatan,
misalnya ditularkan melalui dot, tangan para petugas yang mengandung Candida
albicans. Candidiasis yang paling sering di temukan ialah “oral thrush”
(Candidiasis mulut). Penyakit ini merupakan endemis ditempat perawatan bayi
baru lahir. Keadaan ini memudahkan terjadinya Candidiasis usus dengan tanpa
diare, candidiasis perianal, candidiasisparu dan candidiasis sistemik.
Candidiasis sistemik dapat pula terjadi pada pemberian cairan melalui pembuluh
darah balik dan dapat menyebabkana abses hati. Pemakaian obat antibiotika dan
kortikosteroid yang lama juga memudahkan timbulnya infeksi candida.
2.4.9. Infeksi virus
Menurut Mc. Cracken (1981) infeksi
nosokomial oleh virus dapat disebabkan oleh ECHO (Enteric Cythopathogenic
Human Orphan) virus yang dapat menyerang alat pernafasan, pencernaan,
selaput otak (aseptic meningitis), Coxsackie virus menyebabkan
miokarditis, meningoensefalitis, Adeno virus menyebabkan pneumonia,
hepatosplenomegali, ikterus dan perdarahan, Syncytial virus yang terutama
menyerang alat pernafasan.
2.5 Tanda dan gejala Infeksi
Nosokomial
Adapun tanda
dan gejala munculnya infeksi nosokomial pada seseorang diantaranya yaitu :
2.5.1 Demam
2.5.2 Bernapas cepat,
2.5.3
Kebingungan mental,
2.5.4 Tekanan darah rendah,
2.5.5 Urine output menurun,
2.5.6 Pasien dengan urinary tract infection mungkin ada rasa sakit ketika
kencing dan darah dalam air seni
2.5.7 Sel darah putih tinggi
2.5.8 Radang paru-paru mungkin termasuk kesulitan bernapas dan ketidakmampuan untuk batuk.
2.5.9 Infeksi : pembengkakan, kemerahan, dan kesakitan pada kulit atau luka di
sekitar bedah atau luka.
2.6 Pencegahan Infeksi Nosokomial
Setelah
mengetahui infeksi nosokomial, adabaiknya kita mencegah infeksi tersebut dengan
cara :
2.6.1 Asepsis
Asepsis
adalah penghinderaan atau pencegahan penularan dengan cara meniadakan
mikroorganisme yang secara potensial berbahaya.Tujuan asepsis ialah mencegah
atau membatasi infeksi.di rumah sakit digunakan 2 konsep asepsis yaitu asepsis
medis dan bedah.Asepsis Medis meliputi segala praktek yang di gunakan untuk
menjaga agar para petugas medis,penderita dan lingkungan terhindar dari
penyebab infeksi,seperti cuci tangan,sanitasi dn kebersihan lingkungan rumah
sakit itu hanyalah beberapa contok asepsis medis.Asepsis Bedah meliputi cara
kerja yang mencegah masuknya mikroorganisme ke dalam luka dan jaringan
penderita.Maka dari itu dalam asepsis bedah semua alat kesehatan harus
berprinsip steril,lingkungan harus bersanitasi,dan juga flora mikroba di udara
harus di saring lewat filter berefisiensi tinggi.
2.6.2 Disinfeksi dan Sterilisasi di Rumah
Sakit
Banyak rumah
sakit mempunyai pusat penyediaan yaitu tempat kebanyakan peralatan dan suplai
dibersihkan serta di sterilkan.Hasil proses ini di monitor oleh laboratorium.mikrobiologi
secara teratur.Kecenderungan rumah sakit untuk menggunakan alat alat serta
bahan yang di jual dalam keadaan steril dan sekali pakai.karena
dapat mempersingkat waktu tanpa harus mensterilkan alat,tetapi juga dapat mengurangi
pemindah sebaran patogen melalui infeksi silang.
2.6.3 Sanitasi Lingkungan Rumah Sakit
Tujuan
sanitasi lingkungan adalah membunuh atau menyingkirkan pencemaran atau mikroba
dari permukaan.Untuk mengevaluasi prosedur dan cara-cara untuk mengurangi
pencemaran,dilakukan pengambilan contoh mikroorganisme sewaktu-waktu dari
permukaan lantai.
2.6.4 Perbaiki Ketahanan Tubuh
Di dalam
tubuh manusia, selain ada bakteri yang patogen oportunis, ada pula bakteri yang
secara mutualistik yang ikut membantu dalam proses fisiologis tubuh, dan
membantu ketahanan tubuh melawan invasi jasad renik patogen serta menjaga
keseimbangan di antara populasi jasad renik komensal pada umumnya, misalnya
seperti apa yang terjadi di dalam saluran cerna manusia. Pengetahuan tentang
mekanisme ketahanan tubuh orang sehat yang dapat mengendalikan jasad renik
oportunis perlu diidentifikasi secara tuntas, sehingga dapat dipakai dalam
mempertahankan ketahanan tubuh tersebut pada penderita penyakit berat. Dengan
demikian bahaya infeksi dengan bakteri oportunis pada penderita penyakit berat
dapat diatasi tanpa harus menggunakan antibiotika.
2.6.5 Menyediakan Ruangan Isolasi
Penyebaran
dari infeksi nosokomial juga dapat dicegah dengan membuat suatu pemisahan
pasien. Ruang isolasi sangat diperlukan terutama untuk penyakit yang
penularannya melalui udara, contohnya tuberkulosis, dan SARS, yang
mengakibatkan kontaminasi berat. Penularan yang melibatkan virus, contohnya DHF
dan HIV. Biasanya, pasien yang mempunyai resistensi rendah eperti leukimia dan
pengguna obat immunosupresan juga perlu diisolasi agar terhindar dari infeksi.
Tetapi menjaga kebersihan tangan dan makanan, peralatan kesehatan di dalam
ruang isolasi juga sangat penting. Ruang isolasi ini harus selalu tertutup
dengan ventilasi udara selalu menuju keluar. Sebaiknya satu pasien berada dalam
satu ruang isolasi, tetapi bila sedang terjadi kejadian luar biasa dan
penderita melebihi kapasitas, beberapa pasien dalam satu ruangan tidaklah
apa-apa selama mereka menderita penyakit yang sama.
2.6.6
Perlindungan Diri
Adabaiknya
petugas kesehatan menlindungi diri dari tertularnya infeksi nosokomial dengan
cara memakai sarung tangan, masker,dan baju pelindung. selain berguna untuk
melindungi dari infeksi juga melindungi kulit dari cairan dan darah.
2.7 Penyakit yang Menularkan Infkesi Nosokomial
2.7.1
Infeksi Luka Operasi (ILO)
Merupakan
infeksi yang terjadi dalam kurun waktu 30 hari paska operasi jika tidak
menggunakan implan atau dalam kurun waktu 1 tahun jika terdapat implan dan
infeksi tersebut memang tampak berhubungan dengan operasi dan melibatkan suatu
bagian anotomi tertentu (contoh, organ atau ruang) pada tempat insisi yang
dibuka atau dimanipulasi pada saat operasi dengan setidaknya terdapat salah
satu tanda :
·
Keluar cairan purulen
dari drain organ dalam
·
Didapat isolasi bakteri
dari organ dalam
·
Ditemukan abses
·
Dinyatakan infeksi oleh
ahli bedah atau dokter.
Pencegahan
ILO harus dilakukan, karena jika tidak, akan mengakibakan semakin lamanya rawat
inap, peningkatan biaya pengobatan, terdapat resiko kecacatan dan kematian, dan
dapat mengakibatkan tuntutan pasien. Pencegahan itu sendiri harus dilakukan oleh
pasien, dokter dan timnya, perawat kamar operasi, perawat ruangan, dan oleh
nosocomial infection control team.
2.7.2 Infeksi Saluran
Kencing (ISK )
Infeksi
saluran kemih (ISK) adalah jenis infeksi yang sangat sering terjadi. ISK dapat
terjadi di saluran ginjal (ureter), kandung kemih (bladder), atau saluran
kencing bagian luar (uretra).Bakteri utama penyebab ISK adalah bakteri
Escherichia coli (E. coli) yang banyak terdapat pada tinja manusia dan biasa
hidup di kolon.
Wanita
lebih rentan terkena ISK karena uretra wanita lebih pendek daripada uretra pria
sehingga bakteri ini lebih mudah menjangkaunya. Infeksi juga dapat dipicu oleh
batu di saluran kencing yang menahan koloni kuman. Sebaliknya, ISK kronis juga
dapat menimbulkan batu.
Mikroorganisme
lain yang bernama Klamidia dan Mikoplasma juga dapat menyebabkan ISK pada
laki-laki maupun perempuan, tetapi cenderung hanya di uretra dan sistem
reproduksi. Berbeda dengan E coli, kedua bakteri itu dapat ditularkan secara
seksual sehingga penanganannya harus bersamaan pada suami dan istri. Penderita
ISK mungkin mengeluhkan hal-hal berikut:
·
Sakit pada saat atau
setelah kencing
·
Anyang-anyangan (ingin
kencing, tetapi tidak ada atau sedikit air seni yang keluar)
·
Warna air seni
kental/pekat seperti air teh, kadang kemerahan bila ada darah
·
Nyeri pada pinggang
·
Demam atau menggigil,
yang dapat menandakan infeksi telah mencapai ginjal (diiringi rasa nyeri di
sisi bawah belakang rusuk, mual atau muntah)
Organisme
yang menginfeksi :
E.Coli,
Klebsiella, Proteus, Pseudomonas, atau Enterococcus.
Penyebaran :
Mikroorganisme
yang terdapat pada permukaan ujung kateter yang masuk ke dalam uretra
Penyebab :
kontaminasi
tangan atau sarung tangan ketika pemasangan kateter, atau air yang digunakan
untuk membesarkan balon kateter. Dapat juga karena sterilisasi yang gagal dan
teknik septik dan aseptik.
Pencegahan :
Alat yang
digunakan harus di sterilkan terlebih dahulu. Dipastikan bahwa alat-alat
tersebut steril dan tidak terkontaminasi oleh alat-alat yang tidak steril.
2.7.3 Bakterimia
Bakteremia
adalah keadaan dimana terdapatnya bakteri yang mampu hidup dalam aliran darah
secara sementara, hilang timbul atau menetap. Bakteremia merupakan infeksi
sistemik yang berbahaya karena dapat berlanjut menjadi sepsis yang angka kematiannya
cukup tinggi. Faktor risiko terjadinya bakteremia pada orang dewasa antara lain
lama perawatan di rumah sakit, tingkat keparahan penyakit, komorbiditas,
tindakan invasif, terapi antibiotika yang tidak tepat, terapi imunosupresan,
dan penggunaan steroid.
Bakteremia
yang bersifat sementara jarang menyebabkan gejala karena tubuh biasanya dapat
membasmi sejumlah kecil bakteri dengan segera. Jika telah terjadi sepsis, maka
akan timbul gejala-gejala berikut:
·
Demam atau hipotermia
(penurunan suhu tubuh)
·
Hiperventilasi
·
Menggigil
·
Kulit teraba hangat
·
Ruam kulit
·
Takikardi (peningkatan
denyut jantung)
·
Mengigau atau linglung
·
Penurunan produksi air
kemih.
Organisme
penyebab infeksi :
Terutama
disebabkan oleh bakteri yang resistan antibiotika seperti Staphylococcus dan
Candida.
Penyebaran :
Infeksi
dapat muncul di tempat masuknya alat-alat seperti jarum suntik, kateter urin
dan infus.
Penyebab :
Panjangnya
kateter, suhu tubuh saat melakukan prosedur invasif, dan perawatan dari
pemasangan kateter atau infus.
2.7.4.Infeksi
Saluran Napas (ISN)
Infeksi
saluran napas berdasarkan wilayah infeksinya terbagi menjadi infeksi saluran
napas atas dan infeksi saluran napas bawah. Infeksi saluran napas atas meliputi
rhinitis, sinusitis, faringitis, laringitis, epiglotitis, tonsilitis, otitis.
Sedangkan infeksi saluran napas bawah meliputi infeksi pada bronkhus, alveoli
seperti bronkhitis, bronkhiolitis, pneumonia.
Keadaan
rumah sakit yang tidak baik dapat menimbulkan infeksi saluran napas atas maupun
bawah. Infeksi saluran napas atas bila tidak diatasi dengan baik dapat
berkembang menyebabkan infeksi saluran nafas bawah. Infeksi saluran nafas atas
yang paling banyak terjadi serta perlunya penanganan dengan baik karena dampak
komplikasinya yang membahayakan adalah otitis, sinusitis, dan faringitis.
2.7.5
AIDS
Organisme
penyebab infeksi : Human Immunodefisiensi Virus (HIV). Penyebaran yaitu melalui
pemakaian jarum suntik yang tidak steril atau pemakaian jarum suntik secara
bergantian, adapun cara mencegahnya yaitu gunakan jarum suntik sekali pakai,
pastikan bahwa jarum suntik adalah steril.
2.8 Peran
Perawat dalam Mencegah Infeksi Nosokomial
Tenaga kesehatan wajib menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya dan orang lain
serta bertanggung jawab sebagai pelaksanaan kebijakan yang telah ditetapkan.
Tenaga kesehatan juga bertanggung jawab dalam mengunakan saran yang telah
disediakan dengan baik dan benar serta memelihara sarana agar selalu siap pakai
dan dapat dipakai selama mungkin.
Secara rinci kewajiban dan tanggung jawab tersebut
meliputi :
2.7.1 Bertanggung
jawab melaksanakan dan menjaga kesalamatan kerja dilingkungan. wajib mematuhi
intruksi yang dibeikan dalam rangka kesehatan dan keselamatan kerja, dan
membantu mempertahankan lingkungan bersih dan aman.
2.7.2 Mengetahui
kebijakan dan menerapkan prosedur kerja, pencegahan infeksi, dan mematuhinya
dalam pekerjaan sehari-hari.
2.7.3 Tenaga kesehatan yang menderita penyakit yang
dapat meningkatkan resiko penularan infeksi, baik dari dirinya kepada pasien
atau sebaliknya, sebaiknya tidak merawat pasien secara langsung.
2.7.4 Sebagai contoh misalnya, pasien penyakit kulit
yang basah seperti eksim, bernanah, harus menutupi kelainan kulit tersebut
dengan plester kedap air, bila tidak memungkinkan maka tenaga kesehatan
tersebut sebaiknya tidak merawat pasien.
2.7.5 Bagi tenaga kesehatan yang megidap HIV mempunyai
kewajiban moral untuk memberi tahu atasannya tentang status serologi bila dalam
pelaksanaan pekerjaan status serologi tersebut dapat menjadi resiko pada
pasien, misalnya tenaga kesehatan dengan status HIV positif dan menderita eksim
basah. (Depertemen Kesehatan, 2003).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Infeksi
Nosokomial adalah infeksi yang muncul ketika seseorang berada di lingkungan
rumah sakit baik di tularkan dari pasien, keluarga pasien maupun petugas rumah
sakit. Pada saat ini, penyakit tersebut sedang hangat di perbincangkan di
Indonesia. Ini disebakan karena pasien maupun petugas rumah sakit menghiraukan
tindakan kebersihan baik dari fisik maupun lingkungan rumah sakit. oleh karna itu dengan pencegahan dan pengendalian
terhadap infeksi ini dengan berbagai cara mulai sterilisasi alat
kesehatan,pemusnahan mikroorganisme yang menjadi penyebabnya serta sanitasi
lingkungan.
3.2 Saran
Pihak
rumah sakit, petugas rumah sakit dan keluarga pasien harus bekerja sama dalam
mencegah munculnya infeksi nosokomial diantaranya yaitu :
3.2.1 Pihak rumah harus menyediakan tim pengendalian
infeksi nosokomial, yang bertujuan untuk pengawasan ketat dalam pemberian
antibiotika, pemeriksaan kultur ruangan secara berkala dan menyediakan alat
kesehatan steril yang dibutuhkan di ruang perawatan untuk menghindari munculnya
infeksi nosokomial .
3.2.2 bagi
petugas rumah sakit ( dokter, perawat) untuk selalu melakukan prosedur
pelayanan kesehatan yang baik, agar terhindar dari penyakit infeksi nosokomial
3.2.3 Keluarga pasien diharapkan
kesadaran dari dalam dirinya sendiri untuk tetap mematuhi semua peraturan yang
ada di rumah sakit, berperilaku hygiene dengan tidak meludah sembarangan,
membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan diri maupun lingkungan yang
ada disekitar di rumah sakit.
DAFTAR PUSTAKA
Setyawati, L.2002.Infeksi Nosokomial, Kumpulan Bahan Kuliah Higiene
Industri. UGM
Depkes.2003.Pedoman Pelaksanaan Kewaspadaan Universal di Pelayanan
Kesehatan.
Kurniadi,H.1993.Upaya Pencegahan Infeksi Nosokomial di RS Mitra Keluarga
Jakarta, Cermin Dunia Kedokteran No. 82 tahun 1993.
Sjamsuhidayat & De Jong (2004) Buku ajar Ilmu Bedah, EGC:
Jakarta
Kumpulan
Makalah Kursus Dasar : Pengendalian Infeksi Nosokomial, Perdalin Jaya : Jakarta, Februari 2005


Tidak ada komentar:
Posting Komentar